Definisi dan Fungsi Sistem Ekskresi Pada Manusia

Rabu, Januari 4th, 2017 - Biologi
Sistem Ekskresi Manusia adalah sistem pengeluaran zat-zat sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan lagi bagi tubuh manusia. Tubuh memiliki mekanisme untuk membuang sampah-sampah yang tidak dibutuhkan. Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi sebagian besar penyusun cairan tubuh. Pembuangan zat sisa dari dalam tubuh ditunjukkan pada berbagai proses, yaitu pengeluaran keringat, pengeluaran urin, pengeluaran gas CO2 dan H2O, serta pengeluaran urea dan cairan empedu. Jika keberadaan zat-zat ini jika terlalu lama di dalam tubuh manusia dapat mengganggu kondisi tubuh.
 Sistem Ekskresi Pada Manusia

Setelah apa yang kita makan dan minum maka makanan atau minuman tersebut di proses di dalam tubuh manusia, zat yang tidak berguna dari makanan dan minuman akan dikeluarkan dari dalam tubuh.

Alat pengeluaran atau Ekskresi pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru, dan hati. Ginjal adalah alat pengeluaran yang utama. Ginjal berfungsi mengeluarkan air, amino, dan zat-zat warna empedu. Hasil dari penyaringan di ginjal berupa urin. Kulit berperan untuk mengeluarkan air dan garam-garaman. Paru-paru berperan mengeluarkan karbon dioksida dan air (dalam bentuk uap). Hati berfungsi menghasilkan zat warna pada empedu yang merupakan hasil perombakkan sel darah.

1. Ginjal

Alat pengeluaran (ekskresi) utama pada tubuh manusia adalah ginjal. Ginjal atau buah pinggang manusia berbentuk seperti kacang merah, berwarna keunguan dan berjumlah dua buah. Ginjal terletak di sebelah kiri dan kanan tulang belakang. Bobot kedua ginjal orang dewasa antara 120-150 gram. Ginjal kanan terletak lebih rendah untuk memberi ruang pada hati.

a. Struktur ginjal

Pada potongan melintang, tampak tiga daerah yang berbeda, yaitu kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula), dan rongga ginjal (pelvis).
Pada bagian kulit ginjal (korteks) terdapat alat penyaring darah, yang disebut nefron. Diperkirakan dalam setiap ginjal terdapat satu juta nefron. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (tubulus atau tubula) yang bergelung. Badan malpighi tersusun dari  glomerulus dan simpai Bowman (kapsul Bowman). Glomerlurus berupa anyaman pembuluh kapiler darah. Sedangkan simpai Bowman berupa cawan berdinding tebal yang mengelilingi glomerlurus.
Saluran panjang yang bergelung (tubulus) dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh kapiler darah. Tubulus yang letaknya dekat badan Malpighi disebut tubulus proksimal. Tubulus yang jauh dari badan Malpighi disebut tubulus distal. Tubulus proksimal dan tubulus distal dihubungkan oleh lengkung Henle atau angsa Henle. Lengkung henle ini berupa pembuluh menyerupai leher angsa yang turun ke arah medula ginjal, kemudian naik kembali menuju korteks ginjal. Bagian akhir dari tubulus ginjal adalah saluran (tubulus) pengumpul yang terletak pada sumsum ginjal.

b. Cara kerja ginjal

Ginjal berperan untuk menyaring darah. Bagaimana sebenarnya proses penyaringan darah tersebut berlangsung?
Darah yang akan disaring dialirkan ke dalam ginjal melalui arteri ginjal (arteri renalis). Penyaring darah pertama kali terjadi di badan Malpighi. Plasma darah dan zat yang terlarut di dalamnya disaring oleh glomerulus di dalam badan Malpighi. Setelah disaring oleh badan Malpighi, darah keluar dari ginjal melalui vena ginjal (vena renalis). Hasil saringan (filtrat) berupa filtrat glomerulus selanjutnya masuk ke dalam simpai Bowman. Kemudian filtrat glomerulus tersebut mengalir ke tubulus menuju ke bagian rongga ginjal. Dari sini terbentuk urin yang mengalir ke kantong kemih melalui ureter.
Pada saat filtrat glomelurus berada di dalam tubulus, terjadi proses penyerapan kembali (reabsorpso) zat yang masih berguna dan menghasilkan urin. Zat yang diserap kembali adalah garam (NaCI), air, glukosa, dan asam amino. Zat-zat tersebut masuk kembali ke dalam pembuluh darah yang terdapat di sekitar tubulus. Selain itu terjadi penambahan zat-zat yang tidak berguna dari pembuluh darah di sekitar tubulus. Zat-zat tersebut antara lain ion hidrogen (H+), racun (misalnya amonia), dan obat-obatan (misalnya prisilin). Kandungan urea yang berada dalam tubulus pengumpil lebih tinggi dari pada filtrat glomerulus. Urin akan mengalir ke dalam rongga ginjal, selanjutnya menuju ke kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh, maka dinding kantong kemih akan tertekan. Oleh karena itu, dinding otot pada pangkal kantong kemih meregang sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Selanjutnya urin akan keluar melaluui saluran kencing (uretra).
 

c. Kandungan urin

Urin yang normal mengandung bahan-bahan:
a. Air, urea, dan amonia yang merupakan sisa-sisa pembongkaran protein.
b. Garam-garam meniral, terutama garam dapur (NaCI)
c. Zat warna empedu yang memberi warna kuning pada urin.
d. Zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti vitamin B, vitamin C, obat-obatan dan hormon.
Urin yang normal tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung protein, berarti telah terjadi kerusakan atau gangguan ginjal.

Faktor-Faktor yann Mempengaruhi Produksi Urin

Urin yang dikeluarkan oleh ginjal sebenarnya sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dari individu yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut antara lain hormon antidiuretik, hormon insulin, jumlah air yang diminum, dan faktor cuaca.
 

2. Kulit

Kulit manusia merupakan lapisan luar dari tubuh manusia. Pada manusia, kulit merupakan organ terbesar dari sistem yg menutupi. Kulit memiliki beberapa lapisan jaringan ectodermal dan penjaga otot-otot yang mendasarinya, tulang, ligamen dan organ internal. Kulit manusia sama dengan mamalia lainnya, kecuali bahwa itu tidak dilindungi oleh suatu bulu. Meskipun hampir semua kulit manusia ditutupi dengan folikel rambut, tampak tak berbulu. Ada dua jenis umum dari kulit, kulit berbulu dan tidak berbulu
Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan kulit ari (epidermis), lapisan kulit jangat (dermis) dan lapisan jaringan ikat bawah kulit.

a. Fungsi Kulit

Kulit memiliki beberapa fungsi selain berfungsi sebagai sistem Ekskresi :
  • Sebagai alat pengeluaran berupa kelenjar keringat.
  • Sebagai alat peraba.
  • Sebagai pelindung organ dibawahnya.
  • Tempat dibuatnya Vit D dengan bantuan sinar matahari.
  • Pengatur dan penyeimbang suhu tubuh.
  • Tempat menimbun lemak.

3. Paru-Paru

Bentuk dan mekanisme kerja paru-paru telah kalian pelajari pada sistem pernapasan. Kini kita pelajari fungsi paru-paru sebagai sisem ekskresi (pengeluaran). Zat apakah yang di keluarkan paru-paru?
Paru-paru berfungsi mengeluarkan karbon dioksida dan uap air.

4. Hati

Hati merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya, hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea, dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dari asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses detoksifikasi.
Zat sisa tidak langsung di keluarkan oleh ahti, tetapi dikeluarkan melalui alat ekskresi (pengeluaran) lainnya. Misalnya, urea dan zat warna empedu akan dibawa oleh darah ke ginjal dan dikeluarkan bersama di dalam urin.

a. Fungsi hati

Berbagai jenis tugas yang dijalankan oleh hati, dilakukan oleh hepatosit. Hingga saat ini belum ditemukan organ lain atau organ buatan atau peralatan yang mampu menggantikan semua fungsi hati. Beberapa fungsi hati dapat digantikan dengan proses dialisis hati, namun teknologi ini masih terus dikembangkan untuk perawatan penderita gagal hati.
Selain sebagai organ ekskresi (pengeluaran), hati juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting bagi tubuh, yaitu sebagai berikut:
1. Merupakan tempat untuk menyimpan gula dalam bentuk glikogen.
2. Menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.
3. Mengontrol kadar gula dalam darah.
4. Merupakan tempat pembuatan fibrinogen dan protrombin yang berperan dalam proses pembekuan darah.
5. Merupakan tempat pengubahan provitamin A menjadi vitamin A.
6. Menghasilkan empedu yang berguna untuk mengemulsikan lemak.

b. Gangguan hati

Hati dapat terkena infeksi, contohnya penyakit hepatitis disebabkan oleh serangan virus. Virus ini dapat menular melalui makanan, minuman, jarum suntik, dan transfusi darah. Penderita hepatitis A akut atau baru sembuh dari hepatitis A, ditandai dengan IgM anti HAV yang positif. Sedang IgG anti HAV positif sering ditemukan pada anak atau orang dewasa dari negara berkembang dengan sanitasi lingkungan yang jelek. Ini menandakan penderita pernah terinfeksi virus hepatitis A dimasa lalu. Karena itu prevalensi IgG HAV dapat dipakai sebagai indeks sanitasi lingkungan suatu negara.

Sembuh dari infeksi Hepatitis B, ditandai dengan menghilangnya HBsAg dan timbulnya anti HBs. Sedang IgM Anti HBc pos, berarti baru (recent) terinfeksi dengan hepatitis B.

Demikianlah penjelasan tentang Pengertian dan Fungsi Sistem Ekskresi Pada Manusia. Semoga bermanfaat!
Definisi dan Fungsi Sistem Ekskresi Pada Manusia | aab | 4.5